Hay kawan sekalian.Saya si Gabs kembali lagi dengan kisah seru dan unik dalam perjalanan petualangan saya.Kali ini,saya mengabulkan permintaan orang tua saya untuk menceritakan perjalanan pendakian saya ke sebuah gunung di Jawa Barat dimana gunung tersebut menjadi saksi bahwa semangat orang tua tak ada duanya.hehehe….
Ya,perjalanan ini bermula ketika bibi saya yang tinggal di Jawa Barat mengajak saya untuk menemani beliau mendaki gunung.Pada saat itu saya masih duduk di bangku SMA pada tahun 2008.Awalnya saya ragu menerima ajakan ini.Namun sebagai keponakan yang baik hati dan tidak sombong serta rajin ibadah(hehe..),saya menerima ajakan ini.Jarang2 donk bisa menemani bibi naik gunung.Apalagi bibi sudah punya 5 anak.
Sesampai di rumah,saya menceritakan ajakan bibi tadi ke ibu.Saya mengira bahwa ibu akan melarang,namun ibu setuju.Ibu saya malah hendak ikut bergabung dalam rombongan pendakian ini.Wah,otomatis saya sebagai anak yang memiliki kemampuan pendakian harus berusaha ekstra keras,karena saya membawa orang2 penting dalam pendakian ini.Dan tidak hanya itu saja,bahkan adik saya dan 2 orang anak bibi yang masih SMP dan SD juga di ajak naik.Akhirnya dengan pertimbangan matang,seluruh keluarga saya dan bibi menyetujui walaupun ada beberapa yang di khawatirkan.Dan di pundak saya lah ada amanah dan tanggungjawab yang besar.
Seiring berjalannya waktu,akhirnya tibalah saat yang di tunggu2.Saya bersama ibu dan adik berangkat dari stasiun Kota Malang menuju stasiun Kota Bandung.Sebelum berangkat saya minta doa restu kepada ayah agar diberi kemudahan.Dan berangkatlah kami menuju Jawa Barat dengan Kereta Api Eksecutive Malabar yang ditarik oleh lokomoti seri CC204(railfans bgt).Sembari menikmati pemandangan dari jendela kereta yang lumayan lebar,saya juga mempersiapkan rencana2 guna memperlancar proses pendakian.Sistem perijinan di Taman Nasional gunung Gede Gede Pangrango tidak seperti di Taman Nasional lainnnya.Disana proses perijinannya ketat sekali dan sebelum melakukan pendakian,calon pendaki diharapkan sudah memboking tempat pendakian(kayak pesen tiket pesawat aje..).Dan untungnya bibi sudah paham terkait hal ini sehingga sejak jauh2 hari,beliau sudah memboking untuk 6 orang.Selama masa penantian pemberangkatan,saya sudah melakukan beberapa latihan yang porsinya sedikit saya tambah karena saya tidak ingin sesuatu menimpa saya ketika saya berada diatas,seperti kelelahan,sering kram,dll.Namun tidak untuk orang tua saya.Beliau tidak saya target untuk melakukan latihan karena mengingat usia sudah tak lagi muda.Tetapi untuk adik,saya tetap berikan porsi yang pas.
Kurang lebih sehari semalam kami berada di kereta,dan sampailah kami di tempat tujuan,yakni Stasiun Kota Bandung.Udaranya sejuk,tidak sepanas di Jakarta.Namun masih lebih dingin di Malang.Disana bibi dan paman sudah menjemput dengan mobil.Dan tanpa berlama2,kami langsung meluncur kerumah agar bisa segera bersih2 diri dan istirahat.Rumah bibi terletak di Cianjur.Perjalanan dari stasiun ke Cianjur lumayan jauhlah dan saya pun memanfaatkannya untuk tidur sejenak di dalam mobil.
Setelah sampai rumah dan cukup beristirahat,sekitar pukul 16.00,saya ditemani bibi pergi membeli beberapa perlengkapan tambahan seperti bahan bakar memasak,logistik,dll.Di Cianjur amat jarang di temui toko peralatan gunung.Tidak seperti di Kota Malang.Tapi tak mengapalah,toh sayapun akhirnya juga tahu seluk beluk Kota Cianjur walaupun cuma sekilas.Setelah selesai belanja,kamipun segera pulang dan mempersiapkan perjalanan untuk esok hari menuju pintu Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di Cibodas.
Dan hari yang di nanti pun tiba.Saya,bibi,ibu,adik,dan 2 keponakan siap berangkat.Kami berenam berangkat ke Cibodas naik mobil yang di antar oleh paman.Sesampai di Cibodas,kami mampir dulu di sebuah toko alat gunung untuk meminjam tenda.Karena bibi kemarin belum sempat cari pinjaman tenda.hehe….
Setelah selesai pengecekan akhir,kami masuk menuju kantor perijinan dengan menunjukkan bukti pembokingan yang telah bibi bayar kemarin.Suasana kantor terlihat cukup lengang karena tidak banyak orang yang mau mendaki waktu itu dikarenakan adanya kabar bahwa beberapa pendaki hilang di gunung ini.Nah,disini masalah muncul.Seorang petugas kantor melarang anak bibi yang bernama Ishmah untuk ikut serta dalam pendakian.Petugas kantor beranggapan bahwa usia Ishmah waktu itu belum cukup dan petugas tidak ingin ambil resiko.Namun bibi bersikeras dan berusaha membujuk petugas agar si Ishmah diperbolehkan ikut.Akhirnya setelah bibi dan ibu membujuk petugas kantor,Ishmah pun di ijinkan untuk ikut asalkan pihak kantor tidak ikut bertanggung jawab apabila terjadi apa2 pada Ishmah.Kami pun setuju dan petugas memberikan surat jalan.
Dan dengan langkah tegap dan percaya diri tinggi,kami berangkat menuju pintu pengecekan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Di pos ini kami diminta membuka ransel agar di cek oleh petugas pos dan di data.Hal ini dilakukan supaya petugas bisa mengecek apakah barang bawaan itu nanti bakal di bawa turun lagi atau tidak.Seperti makanan berbungkus atau botol2 air mineral.Petugas pun menghimbau kepada kami agar tidak membuat jalur baru yang tidak jelas agar tidak membahayakan kami dan pendaki2 lain.Kamipun setuju dan segera melanjutkan perjalanan setelah mengambil gambar di pos ini.
Kurang lebih perjalanan sekitar 30 menit,kami tiba di persimpangan air terjun cibereum.Disini kami beristirahat kurang lebih 20 menit.Selama waktu istirahat,saya menyuruh adik untuk turun ke air terjun guna mengambil tambahan bekal air di perjalanan.Adik turun di temani oleh bibi dan ibu.Sedangkan kedua keponakan saya menuggu bersama saya.Lima belas menit kemudian,mereka kembali lagi.Mereka berkata bahwa air terjunnya indah sekali.Namun saya tidak berkeinginan untuk melihatnya.Setelah selesai berkemas,kami segera memulai perjalanan ke atas.
Perjalanan pun berlanjut.Kurang lebih 15 menit berjalan,masalah pun muncul.Ibu saya sudah mulai menampakkan tanda2 lemah dan pening.Sepertinya,beliau terkena AMS(acute mountain sickknes).Tanpa banyak bicara,saya segera menghentikan perjalanan dan memberi beliau balsem supaya di oleskan di sekitar kepalanya.Nah,disaat ini lagi2 saya harus membuat keputusan apakah melanjutkan perjalanan,atau kembali turun untuk mengantar ibu pulang.Dikarenakan kondisi fisik ibu yang tidak bisa dipaksa.Bibi pun juga berusaha membujuk ibu agar mau kembali.Namun percuma saja.Semangat ibu yang menggebu2 mengalahkan rasa sakit dan pening yang di alaminya.Luar biasa sekali.Dan akhirnya,dengan mantap dan yakin beliau segera berdiri dan bergegas untuk kembali melangkah maju.
Semakin lama,ibu saya sudah terbiasa dengan kondisi gunung sehingga beliau terlihat enjoy dan tidak terganggu.Kami pun melanjutkan perjalanan melewati Telaga Biru yang konon airnya seperti berlendir.Namun saya mencoba untuk meminumnya.Tidak apa apa kok.Disini kami bertemu dengan pendaki lain yang sedang beristirahat di sebuah pos bayangan.Mereka pun kaget melihat rombongan kami yang terdiri dari beberapa anak kecil dan dua orang ibu2 yang berusia di atas 30 tahun.Namun,kami tidak merasa minder dan gengsi.Justru mereka terkagum dengan rombongan kami.Kamipun bersikap wajar dan memberi salam kepada mereka sambil melambaikan tangan.Kurang lebih perjalanan beberapa menit,kami melintas di jembatan kayu.Jembatan ini terbentang panjang sekali.Hampir2 mencapai 2 km dan keseluruhan badan jembatan terbuat dari kayu.(kebayang ga gmn cara bikin n pasanginnya??).Kami mengambil beberapa gambar untuk di abadikan.Setelah puas,kami kembali melanjutkan perjalanan.
Sungguh tak sia2 saya menerima ajakan bibi untuk menemani beliau ke Gunung Gede.Apalagi ditemani orang tua dan beberapa sanak family.Mantap dah….
Setelah berjalan bebrapa menit berjalan,kami melintas di sungai air panas.Disini kami tidak melewati jembatan,namun hanya menginjak batuan2 yang menyembul dari dalam sungai sambil berpegangan pada tali kawat yang terbentang sepanjang sungai.Perlu diketahui bahwa air panas ini muncul dari dalam gunung.Luar biasa bukan.Disini kami juga berpapasan dengan pendaki2 yang mayoritas anak2 muda sedang beristirahat.Dan lagi2,mereka tercengang dengan rombongan kami.hehehe….dasar anak muda.
Waktu terus berjalan.Kami semakin berada di ketinggian.Dan matahari sudah mulai turun.Kami sejenak beristirahat di persimpangan antara Gunung Gede dan Gunung Pangrango karena ibu saya kelelahan dan sedikit merasa pusing.Disana tertulis bahwa Gunung Gede tinggal menanjak 2 km lagi.Sambil istirahat,kami mengeluarkan senter guna persiapan perjalanan malam hari.Sementara itu,saya memberi ibu sebuah balsem agar bisa beliau gunakan.Entah di oles atau sekedar di cium aromanya.Wajah ibu terlihat agak pucat dan lesu.
Setelah puas istirahat,kami bergegas melanjutkan perjalanan.Hari sudah mulai gelap.Kami pun merapatkan barisan dan saling menjaga agar tidak terlepas dan hilang.Disini masalah kembali muncul.Anak bibi yang bernama Imad mengalami pusing dan mual.Saat itu imad merengek2 kepada bibi.Maklum,saat itu masih kelas 1 SMP.Bibi berusaha membujuk Imad agar tetap kuat.Akhirnya,dengan segala daya dan upaya,Imad mau kembali berdiri dan melanjutkan perjalanan.Dan,sebenarnya,saat2 inilah yang benar2 saya khawatirkan,yakni melewati Tanjakan Setan pada malam hari dengan kondisi seperti ini.Perlu agan ketahui bahwa Tanjakan Setan adalah sebuah jalur yang terdiri dari batu2an besar dan keras yang memiliki kemiringan lumayan ekstrim.Bahkan pihak Taman Nasional sampai membuat tali kawat di sepanjang jalur ini agar bisa di gunakan untuk berpegangan para pendaki agar tidak terjatuh ke belakang.Saya pun menyusun strategi yakni menyuruh ibu dan Imad untuk berjalan di depan sambil berpegangan,sementara saya,adik,bibi,dan Ishmah berada di belakang guna mengantisipasi hal2 yang tidak di inginkan.
Dan akhirnya dengan perjuangan yang tak sedikit,tetesan keringat,dan”rengek an” kecil,kami bisa melewati Tanjakan Setan ini dengan mulus dan tanpa cedera.Sungguh perjuangan yang luar biasa dari srikandi2 beserta putra putrinya yang tak kenal putus asa.Dengan segenap kekuatan yang ada,kami semakin naik dan meninggalkan tanjakan ini.Setelah berjalan kurang lebih 10 menit,ibu saya sudah kelelahan.Beliau meminta untuk istirahat.Saat itu kondisi kami berada di hutan2 akar yang agak miring.Saya meminta kepada ibu untuk berjalan 15 menit lagi agar bisa tiba di tempat yang datar.Pada saat itu,saya melihat seberkas sinar muncul dari atas.Cahaya yang muncul dari atas tersebut terlihat indah menembus rimbunnya pepohonan.Saya pun memberitahukan kepada ibu bahwa itu adalah tanda2 puncak sudah dekat.Namun sepertinya tenaga ibu sudah habis dan tidak kuat lagi.Justru beliau memerintahkan kami berlima untuk naik dan meninggalkan beliau disitu.Sebuah ide yang sangat tidak mungkin dilakukan oleh kami semua.Akhirnya,saya dan bibi sepakat untuk mendirikan tenda di lerengan gunung ketimbang meninggalkan ibu sendirian dalam kondisi seperti itu di tengah gunung.Saya mencari2 tempat sekitar yang agak datar agar bisa mendirikan tenda.Bersama bibi,saya membangun tenda dan menyiapkan makan malam.Saya menyuruh ibu dan adik beserta keponakan2 untuk tidur di dalam tenda.Sedangkan saya dan bibi tidur di luar menggunakan sleeping bag.Sungguh sebuah keputusan yang saya rasa tepat pada saat itu karena sangat beresiko apabila memaksa seorang ibu yang berusia 30an tahun untuk terus naik.
Sebenarnya,ibu saya sudah menunjukkan tanda2 tidak kuat sesaat setelah meninggalkan air terjun cibereum.Namun beliau diam saja dan terus melakukan pendakian.Saya sebenarnya bisa saja melarang,namun semangat dan kegigihan beliau mengurungkan niat saya untuk melakukan hal tersebut.Saya menghormati keputusan beliau untuk tetap melanjutkan pendakian.Dan saya telah berkomitmen untuk menjaga mereka semua sampai mereka kembali pulang.Sembari menyiapkan posisi tidur yang nyaman,samar2 ibu saya berkata dari dalam tenda bahwa ia mendengar suara mirip kendaraan lewat.Namun,saya hanya tersenyum dan mengatakan kepada beliau bahwa itu hanyalah suara angin yang bertiup kencang dari lerengan gunung.Beliau paham dan melanjutkan istirahat kembali.
Terpaan angin pagi hari mambangunkan saya dari tidur malam saya.Saya terbangun dan segera keluar dari kantung tidur.Bibi masih terlihat lelap tidur.Namun saya memberanikan diri untuk membangunkan beliau.Pada saat itu,saya melihat matahari tampak bersinar terang dari balik gunung.Langsung saja,saya meminta tolong kepada bibi untuk membangunkan yang ada di dalam tenda sedangkan saya mengecek ke atas apa sudah benar2 mendekati puncak.Bibi setuju dan saya bergegas lari tanpa membawa peralatan apa apa.Dan benar saja,hanya berjarak 500 meter,saya bisa melihat jurang dari puncak Gunung Gede.Sayapun bergegas turun dan memberitahukan kepada semua anggota.Mereka terlihat bersemangat dan segera berkemas untuk ke puncak.Namun ibu saya masih lemah dan belum siap melakukan perjalanan.Lagi2 bibi menyemangati ibu agar mau berdiri dan melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal beberapa meter saja.Ibu pun menurutinya dan bergegas berdiri melanjutkan perjalanan.Di wajah beliau nampak tanda2 lesu dan lelah.Saya tidak ingin terjadi apa2 pada ibu.Akhirnya saya mengambil inisiatif bahwa saya harus sampai di puncak terlebih dahulu,kemudian meletakkan ransel saya disana dan kembali turun untuk membawa serta ibu dalam gendongan.Sungguh sebuah tindakan yang aneh dan gila,namun saya benar2 melakukannya.Saya sampai di puncak gunung terlebih dahulu,kemudian saya kembali untuk “menggendong” ibu dari bawah ke atas.Sepertinya itu sebuah ide yang gila dan tidak akan ada orang yang mau melakukannya.Namun walaupun lelah dan capek,saya lakukan hal tersebut.Saya merasa memiliki sebuah tanggungjawab yang besar atas keamanan mereka semua di atas sini.Dan saya harus bisa membawa mereka semua kembali pulang dengan keadaan utuh.Tanggungjawab itulah yang membuat saya bisa melakukan hal ini dan berhasil.Ibu sudah berada di puncak berkat “gendongan” saya.Melelahkan memang,dan sangat capek.Menggendong ibu seberat kurang lebih 51 kg di jalan menanjak dan tidak rata.tetapi bagi saya itu bukan apa2 di banding jasa besar ibu saya membesarkan saya hingga sebesar ini.
Setelah seluruh anggota berada di puncak,kami pun memasak air dan sedikit makanan sebagai tambahan energi.Sembari memasak,kami berfoto2 dan mengabadikan gambar kami yang terlihat kelelahan dan capek.haha..(sumpah mbanyol).Namun,inilah makna dari perjalanan.Inilah makna dari cerita.Dimana puncak bukanlah menjadi tujuan,melainkan kisah dibalik perjalanan menuju puncaklah yang menjadikan perjalanan kami terlihat menyenangkan dan sulit dilupakan.
Matahari pun sudah sedikit condong.Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi.Kami segera berkemas dan bersiap melanjutkan perjalanan.Kali ini,kami akan berencana kembali lewat alun2 Suryakencana.Jalur menurun dan curam sudah menanti di depan kami berenam.Namun,tak ada kata mundur bagi kami.Dengan energi yang telah kembali terisi,kami melanjutkan perjalanan turun.Jalanan turun lebih di dominasi hutan2 yang tak jauh berbeda ketika kami naik.Kami sempat berpapasan dengan rombongan lain.Mereka sempat menanyakan jarak ke puncak apa masih jauh.Kami mengatakan bahwa jarak hanya tinggal beberapa meter saja.Mereka berterimakasih dan melanjutkan perjalanan.Setelah berjalan turun kurang lebih 45 menit,kami tiba di sebuah hamparan yang luas terdiri dari banyak tanaman Edelweis dan biasa para pendaki menyebutnya Alun-Alun Suryakencana.Sungguh sebuah pemandangan yang tak ada duanya dan jarang kami temui di tempat2 lain.Tanpa banyak kata,kami langsung mencari tempat berteduh yang pas,tidak banyak tertiup angin dan luas.Setelah mendapat tempat,kami mengeluarkan perbekalan dan bersiap2 memasak makan siang.(padahal baru jam 10).Sumber mata air tak jauh dari tempat kami beristirahat.Saya pun bagi tugas dengan adik.Saya yang mengambil air,sedangkan dia menyiapkan peralatan dan menyalakan api.Proses memasak berlangsung agak lama dikarenakan angin yang bertiup kencang mematikan kompor kami.Bibi pun memanfaatkan waktu2 ini untuk mengambil gambar kami masing2 yang sudah bermuka lesu,lemah,dan capeeek.hehehe….
Setelah 30 menit,hidangan selesai.Hanya memasak beberapa mie dan minuman saja.Maklum,perbekalan menipis.Sambil makan2,saya juga mengabadikan foto saya di hamparan alun2.Setelah selesai makan2,kami berfoto bersama2 sebagai kenang2an.Selesai foto2,kami membersihkan sampah2 yang ada untuk dibawa turun kembali dan membereskan kompor dan peralatan2nya.Pukul 11 lewat kami melanjutkan perjalanan.
Hamparan luas di alun2 ini benar2 terlihat indah.Jalanan pun terlihat membentang sepanjang alun2 dan seakan2 tak berujung.Pada waktu tengah hari,kami berhenti sejenak untuk melakukan ibadah.Sebentar saja,kemudian lanjut jalan lagi.Di ujung alun2,jalanan berakhir.Kali ini hutan2 yang akan menemani kami melanjutkan perjalanan pulang.Ibu yang dari tadi diam pun kini sudah mulai bisa ngobrol dengan bibi dan kami.Setelah berjalan turun kurang lebih 1 jam lebih,masalah muncul.Disini Imad mulai merengek lagi karena kelelahan.Padahal,satu jam perjalanan itu sudah diselingi istirahat ringan.Namun,Imad tetap saja Imad.Masih kelas 1 SMP.Kemudian,bibi meminta agar saya agar melepaskan ransel dan menggendong imad.Kali ini saya harus membawa turun keponakan saya yang beratnya kurang lebih 40 kiloan dengan medan lumayan curam.Saya pun tetap berkomitmen bahwa saya akan membawa mereka semua turun dengan selamat dan saya benar2 melakukannya lagi.Saya berjalan sambil “membawa serta” Imad dalam gendongan.Capek sebentar,istirahat.hehehe….
Kurang lebih 45 menit saya turun sambil membawa Imad.Setelah itu,Imad pun kembali pulih dan mau berjalan sendiri.
Singkat cerita,kami tiba di pos pemberangkatan via Gunung Putri pada pukul 17.11.Disana,kami menunjukkan surat jalan yang diberi oleh petugas pemberangkatan via Cibodas.Setelah di tandatangani petugas,kami berterimakasih dan bergegas turun.Di bawah,paman sudah menjemput dengan mobil dan menyambut kami dengan sukacita bak pahlawan yang kembali setelah berperang.(Lebay:on).
Saya pun merasa lega dan senang.Mereka benar2 kembali pulang dengan selamat.
Nah,ada beberapa pelajaran menarik yang bisa kita ambil dari kisah ini.Yang pertama ialah ketika kita memiliki sebuah amanah dan tangguung jawab yang besar,maka kita wajib melaksanakannya dengan sekuat tenaga.Sekalipun terlihat konyol dan ekstrim.Saya mengutip dari sebuah kalimat di film Spiderman.Disini pamannya mengatakan bahwa “Seiring datangnya kekuatan yang besar,muncul tanggung jawab yang besar pula”(klo salah,mohon d verivikasi).Dalam perjalanan ini hanya saya yang memiliki pengalaman pendakian.Hanya saya yang memiliki kemampuan fisik yang lebih.Otomatis,sayalah yang bertanggung jawab atas keamanan mereka di atas.
Berikutnya adalah penampakan karateristik.Semasa SMA dulu,saya pernah mengikuti kegiatan napak tilas di sebuah kota di Jawa Timur.Pada waktu itu,banyak sekali para adventurer yang hadir.Saya sempat ngobrol dengan salah seorang petualang yang berasal dari kota yang sama dengan saya.Dia berkata bahwa ketika seseorang melakukan perjalanan pendakian bersama rombongan ke sebuah gunung,maka sifat asli para pendaki2 tersebut akan nampak ketika perjalanan menuju puncak.Dan benar adanya.Dalam kisah di atas,terlihat bahwa ibu saya memang berkarakter lembut.Pantas saja beliau sering merasa kelelahan dan capek.Kemudian bibi saya berbeda dengan ibu.Bibi cenderung lebih tahan banting dibanding ibu.Dan memang beliau berkarateristik keras dan menyukai tantangan(Wow,ajaib bukan??).Sedangkan adik dan keponakan2 saya memang masih kecil dan wajar kalau mereka suka mengeluh dan merengek.Dan saya tidak kaget akan hal itu.Namun tidak selamanya mereka seperti itu.Saat ini,Imad sudah menjadi seorang santri di sebuah pesantren ternama.Ishmah pun demikian.Dan adik saya sudah menjadi bocah tapak suci yang gila musik.Sedangkan saya???coba tebak gimana hayo???
Hahaha……cukup saya dan Sang Maha Pencipta yang tahu.Dan silahkan agan2 yang mendeskripsikan sendiri tentang diri saya…
Sekian…..
ni foto2nyah..:










