Climbing at Monkey Valley

Bulan Ramadhan memang bulan yang penuh berkah. Bagi sebagian orang, termasuk saya nih, bulan ramadhan identik dengan mendapat pahala yang banyak dengan bermacam cara. Dari mulai tidur berpahala, tilawah berpahala (gede bgt nih), sampai menyediakan buka bagi kaum dhuafa’. Tak sedikit pula dari masyarakat kita yang justru menggunakan momen berpahala ini hanya untuk bermalas-malasan. Semisal ada kawan kita mengajak ke suatu tempat, pasti ada aja yang ngejawab ,“ malas ah, tidur aja biar dpt pahala”. Nah gimana jadinya kalo tiap orang yang di tanya jawabnya kayak gitu pas bulan-bulan ramadhan gini. Wah, boleh jadi tiap siang hari sepi dah Kota Malang nih. Ckckc….

Namun, tidak bagi saya. Justru momen seperti ini, wajib di isi dengan kegiatan-kegiatan yang menarik, menantang tentunya, dan yang pasti tetap tidak melanggar kewajiban berpuasa. Panjat tebing. “Poso2 kok penek’an,ga kesel a(puasa-puasa kok manjat, ga capek ta,red)??”. Macam itulah pertanyaan yang di lontarkan beberapa kawan saya ketika di tanya mau kemana. Namun saya tak ambil pusing dan menjawab sesuka hati aja. “aq ga betah ndk omah,rek.( saya ndak betah dirumah,red)”haha…

Ya. Kemarin, tepatnya hari sabtu minggu, saya dan temen-temen YEPE yang masih anggota muda mengadakan acara climbing bersama di sbuah tempat yang menarik(bwt saya) dan tak jauh dari kota yang bernama ‘Lembah Kera’. Saya bersama temen-temen lain yakni d’Ghulmz, d’Monggo’s(monggga), d’Sari Min pergi kepasar (mbak rofah ini namax bnyk bgt), mb’ Dian(indah), mb’Egg(ega), mb’ fenn(fenny), d’Sri(jare masekak ririn), mb’isnin(isna), adkx mb’isnin(aan), dapat invitation dari senior-senior untuk panjat tebing di sana (elka,red). Kami berdelapan bersama senior-senior yakni mas 224 CL(masekak boy), suAkbar(masDanlat), d’Kennz(maskenny), d’Yudz(masyudha), d’Rulzz(masirul) berangkat dari Metro15 naik motor. Sebelum berangkat, kami di suruh packing-packing dulu perlengkapan yang bakal di bawa ke Lembah Kera (selanjutx disingkat elka,red). Tapi saat itu saya tidak ikut packing karena masih ada urusan di kampus dan menyusul ke elka sepulang dari kampus.

Pukul 17.00 saya keluar dari kampus dan segera meluncur ke Metro15 karena saya dapat jatah bawa barang juga. Dan ternyata, yang saya angkut adalah sebuah genset sodara-sodara. Sungguh baik nian teman-teman saya ini. Karena saya tak mau berlama-lama di Metro15 dengan ‘sebuah genset’, segera saya cari webbing untuk mengikat “siGenzet” ke motor. Lumayan juga bawa genset sampe lokasi. Lumayan jauuh. Huehehehe…. Selesai mengikat genset, mengunci sekret, langsung cabuut..

Sesampai rumah pas banget waktu buka puasa. Ternyata Allah masih mengijinkan saya untuk mencicipi masakan ibu sebelum pergi manjat,huehehe…Langsung dah saya makan, sholat, dan pamitan. Perlu pembaca ketahui bahwa “pamitan” itu amatlah penting. Lebih penting dari makan,sodara. Karena ketika pamitan kita di restui oleh orang tua, maka kita akan merasa aman dan nyaman dalam perjalanan. Sebaliknya, ketika pamitan kita tidak di restui dan kita memaksakan kehendak, maka dalam perjalanan, kita akan merasa gelisah, tidak tenang, dan timbul pikiran macam-macam. Banyak kecelakaan lalu lintas oleh anak muda jaman sekarang di sebabkan oleh “pamitan yang tidak di restui”. Padahal, dalam hadist sudah di sebutkan “Ridho Allah adalah ridho orang tua juga ”. Oleh sebab itu “Budayakan Pamitan di Setiap Perjalanan Anda”. Jama’aaahhh…..ooooowww…Jamaaa’aahh………tuh kan jadi ceramah. Okeee balik ke topik panjat.

Oya,perlu pembaca ketahui bahwa elka terletak di kabupaten Malang. Tepatnya di desa gampingan kecamatan pagak, Kepanjen. Kalau dari metro15 kira-kira 1 jam lebih sedikit. Waktu itu saya berangkat dari rumah saya di kebonagung. Jadinya kagak lama-lama amat. Perjalanan malam itu cukup tenang dan santai. Sambil di temani siGenzet, kita ngbrol berdua dan bertukar curriculum vitae masing-masing. (ni orang sakit kali yak???).


Sesampai di jembatan Sengguruh, saya menelpon rekan-rekan supaya di beri arahan dari jembatan ke elka. Maklum. Baru pertama kali. Dan mas 224 CL memberikan arahan yang sip buat saya. Trims mas.Hhuehehe..
Dan inilah yang membuat saya dag dig dug. Mas 224 CL bilang bahwa,“nanti setelah lewat perempatan kecil kamu terus aja lewatin makadamnya. Ntar pasti ketemu kita”. Oke, kalimat barusan kalo di cerna telinga kita sih gampang-gampang aja kan. Makadam. Waaah,merakyat banget. Pasti kanan kirinya masih rumah-rumah kecil. Banyak orang lalu lalang. Emak-emak komplek lagi ngrumpi di pinggir jalan,dan saya masi pipis pada tempatnya(lho??yg ini kagak ding). Jalanan pun terang. Tapi….
MiMPI AJA!!!!!! Jalanan gelap. Gada lampu penerangan selain motorku. Jalan makadam campur pasir licin. Gada rumah blass. Sepiiii polll…..Oh God. Saya ndak ikhlas mati di sini. Hikzz…
Namun, saya masih punya semangat untuk terus hidup dan maju. Saya keluarkan sebuah pisau dari tas saya dan saya pegang erat-erat sebagai safety. Mana tau ada orang mau macam-macam dengan saya, tinggal lempar ajah. Emang gue jejaka apakah, eh salah, apaan!!enak aja mau godain ekke.(maaf,penulis kehabisan obat.)
Dan akhirnya, dengan segala ‘daja dan upaja’, sampailah saya di Lembah Kera. Dari atas terihat d’Kennz menjemput saya sambil berlari kecil untuk menunjukkan jalur. Mantap daahh……
Senang rasanya bisa ketmu teman-teman setelah lewat jalanan tadi. Seolah-olah tak percaya kalo masih hidup..(Alhamdulillah).

Setelah saya tiba di sana, para senior segera memasang lampu neon dan menyalakan siGenzet. Suasana tebing jadi ramai karena keberadaan kita dan suara genzet yang lumayan. Di karenakan kami semua belum sholat Isya’ dan tarawih, maka setelah pemasangan lampu selesei, kami melaksanakan sholat Isya’ dan taraweh berjamaah. Tuh kan,meskipun berkegiatan di bulan ramadhan, bukan berarti meninggalkan kewajiban beribadah loh. Panjat boleh, sholat dan puasa juga jalan terus laah…
Betapa nikmatnya ketika kita bisa merasakan sholat di tengah suasana alam malam hari yang dingin. Ditemani bunyi jangkrik, angin berembus.”Maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan???”(asooyyy….).
Selesai sholat, beberapa dari kami segera menyiapkan makan malam. Sisanya, para senior segera membongkar ransel dan menyiapkan alat buat pasang jalur panjat. Jalur panjat di elka sini buanyak banget deh. Dan namanya aneh. Ada jalur pipo, gong setan,awas ngantuk(ini paling aneh), gong setan 2, long way, doraemon, dan banyak lagi dah. Ntar kalo aq yang bkin jalur biar kukasih nama ‘semarmendem’, ato ‘ sagab cakep’,’sagab imut’ juga boleh.(halah opo aee…….)
Mas 224 CL bersiap-siap bkin jalur dan di belay oleh d’Rulzz. Ternyata lumayan susah juga masang jalurnya. Musti nyari-nyari hangernya dulu pasang runner,naik lagi nyari. Sampai ketemu yang pas dan ga ngrusak tali alias ga ngbikin ’friksi’ antara tebing dan tali. Kurang lebih setengah jam mas 224 CL bergelantungan di tebing buat masang jalur. Setelah itu saya mencoba merasakan adrenalin vertical activity yang satu ini. Saya ganti baju dan pasang harnness. Sebelum naik, saya lapor dulu ke belayer, mas Danlat, sambil mengucap pasword “on belay” dan akan di jawab dengan “belay on”. Sayapun naik perlahan. Oke, first time cuma dapat sampai runner 2. Dan second time sampai runner 2 lebih dikit. Sumpah tangan serasa ga kuat mencengkram, lemes, kram dikit. Tapi seru jugak. Mantap. Akhirnya rekan-rekan mulai mencoba satu persatu. Mas Ghulam, mas Yudha, mas Kenny, adiknya mbak isna, de el el. Kegiatan kita ini hanya di terangi oleh lampu senter dari rekan di bawah dan si pemanjat wajib menggunakan headlamp. Meskipun malam makin larut, kita masih main. Dan kgiatan panjat mulai benar-benar berakhir pada pukul 1 dinihari. Dan di lanjutkan bersih diri dan makan malam, kemudian istirahat. Namun saya belum bisa tidur. Bersama mba isna, masekak, masakbar, masirul,masyudha, masghulam, lumongga ngobrol dan nemenin senior-senior bikin makan saur sambil berdendang gitar. Semalam suntuk kami terjaga. Hingga waktu sahur tiba, segera saya bangunkan rekan-rekan untuk makan sahur seadanya. Lauknya ada tempe, sayur, sambal,dan lainnya saya lupa. Dan ini adalah saat-saat pertama kali saya makan sahur di luar ruangan di pinggir tebing. Subhanallah mantaap. Gada duanya dah..
Suara adzan pun terdengar. Waktunya sholat Subuh. Saya pun segera mengajak teman-teman untuk menunaikan sholat. Sehabis sholat banyak dari rekan-rekan yang tidur kembali. Namun saya tidak merasa ngantuk sekali. Ambil gitar, dan berdendang di temani mas 224 CL dan d’Rulzz. Matahari samar-samar mulai nampak. Ternyata, mas 224 CL masih berkeinginan manjat lagi. Tetapi beliau tidak mau masang jalur. Akhirnya, d’Rulzz dan d’Kennz yang turun tangan. Segera mereka ambil perlengkapan seperlunya dan menuju ke tebing. Beberapa rekan sudah mulai ada yang terbangun dan ikut pula melihat pemasangan jalur. Lumayan lama kami memilih jalur di karenakan kondisi yang tak memungkinkan. Setelah ketemu jalur yang akan di panjat, d’Kenzz mulai naik dan d belay oleh d’Rullzz. Saya dan d’Ghulmz hanya melihat dari bawah. Dan karena d’kennz sudah kelelahan mencari jalur, maka giliran d’Rulzz yg naik. Pemasangan jalur terbilang cukup lama karena tidak banyak point yang bisa di gapai untuk naik ke hanger berikutnya. Sambil menunggu jalur selesai, kita di ajarin main boulder oleh mas 224 CL.saking lamanya yang masang jalur, rekan-rekan udah terbangun semua dan berkumpul di tebing untuk melihat pemasangan jalur. Sambil main boulder, kita berfoto narsis untuk di pajang sebagai profpic baru(termasuk punya saya). Hahaha…. Dan akhrnya mas 224 CL selaku ketua memutuskan supaya masirul segera turun saja dan membatalkan jalur yang telah di buat di karenakan pemasangan runner 2 yang sulit dan makan waktu. Pemanjat setuju dan segera meng-clean kan tebing. Selesai beres-beres alat, kita kembali ke ‘pengungsian’ untuk beribadah dan beristirahat siang. Usai sholat, beberapa rekan hanya duduk lesehan sambil bersantai. Ada yang merebahkan badan untuk tidur kembali. Kami meninggalkan lokasi tepat pukul 15.30, usai membersihkan matras dan packing. Sebelum pulang, kami sempatkan berdoa agar selamat sampai tujuan. Sempat mampir di masjid di daerah Cepokomulyo untuk melaksanakan sholat Ashar sebentar. Setelah itu perjalanan di lanjutkan. Kami singgah di masjid Al Abror Kebonagung di karenakan sudah masuk waktu magrib. Setelah sholat, perjalanan baru di lanjutkan kembali ke sekret tercinta, Metro15.


Mungkin cukup sekian dari kisah yang telah saya buat. Semoga bisa menjadi bahan referensi buat pembaca yang budiman. Terimakasih karena telah meluangkan waktu anda untuk membaca tulisan saya ini.
Wassalam.